ADOBE PHOTOSHOP

Pengenalan Serta Tutorial Dasar Adobe Photoshop (Manipulasi Gambar,Teks,dan Brushes)

B L O G

Aneka Tips Dan Trik Blog Bagi Blogger Pemula

P U I S I

Kumpulan Puisi Kahlil Gibran dan Puisi Cinta Lainnya

Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Kata Kata Kasih

Di sebuah rumah yang sepi, sseorang pemuda yang masih muda usianya duduk memandangi langit di luar jendelanya yang dihiasi bintang-bintang dan terkadang potret seorang gadis di depannya. Garis-garis dan warna-warna potret tersebut terpantul di wajahnya, mengungkapkan misteri-misteri dunia dan rahasia-rahasia kekekalan. Potret wajah wanita itu berbicara diam-diam kepadanya, menjadikan matanya telinga yang memahami bahasa roh yang melayang-layang di udara dalam kamarnya, mengarahkan seluruh keberadaannya pada hati yang cerah dengan kasih dan meluap dengan kerinduan.

Satu jam berlalu seperti itu seolah-olah itu adalah saat dalam mimpi menyenangkan atau satu tahun dalam kekekalan. Akhirnya sang pemuda meletakkan potret itu di depannya, mengambil pena dan kertas, dan menulis :

“Kekasih Jiwaku !

Kebenaran-kebenaran besar yang ada di atas alam tidaklah diteruskan dari satu manusian kepada manusia lainnya lewat ucapan manusia yang biasa. Melainkan, kebenaran-kebenaran besar itu memilih kesunyian sebagai jalan di antara jiwa-jiwa. Aku tahu sekali bahwa kesunyian malam ini bergegas di antara jiwa kita, membawakan pesan-pesan yang lebih tidak kentara daripada kata-kata yang ditulis angin spoi-spoi di musim semi di atas permukaan air. Kesunyian malam mengungkapkan kitab kedua hati kita kepada kedua hati kita. Tetapi sama seperti halnya Allah berkehendak untuk memenjarakan jiwa dan tubuh, adalah juga kehendak kasih untuk menjadikan aku tahanan kata-kata. Kata-kata mereka, kekasihku, bahwa kasih itu diubah di dalam hamba-hambanya menjadi api yang menghanguskan.

Telah kutemukan bahwa saat-saat berpisah ternyata tidak sanggup memisahkan esensi kedua roh kita, sama seperti halnya kutahu pada saat perjumpaaan kita yang pertama,bahwa jiwaku telah mengenal jiwamu sepanjang zaman,, sama seperti halnya kutahu bahwa pandangan pertamamu kepadamu sesungguhnya bukanlah pandangan pertama.

“Kekasihku !

Saat itu mengikat kedua hati kita, yang terbuang dari dunia yang lebih tinggi. Saat itulah salah satu saat yang meneguhkan imanku bahwa jiwa itu telah ada sebelumnya dan kekal sifatnya. Di saat-saat sepeerti itulah alam menyingkapkan wajah keadilannya yang tak terhingga, tetapi menganggapnya sebagai tirani.

Dustur

Kutemukan ......
sebuah nama dalam keagungan
berselimut kekuatan
memancarkan kekuasaan
dipuji
diabdi

Kulihat .....
aneka bentuk terangkai rupa
terhimpun
tersusun
bersurat arti
bersirat makna

Kubaca .....
segala misal perumpamaan
pengajaran
teguran
yang mengingatkan
hati insan yang penuh kekhilafan

Kudapatkan .....
di setiap lembar halaman
pedoman
aturan
peta penunjuk jalan
bagi langkah kaki dalam menapak kehidupan

Kudengarkan .....
kisah yang diceritakan
berita yang dikabarkan
tentang kebahagiaan
tentang kepedihan
dari janji adil pembalasan

(Bunga  Rampai)

Dari Dalam Dirimu

Dari dalam dirimu
bila kau mau dan mampu
lukislah sebuah senyuman di bibirmu
karena itu indah
bak mentari pagi yang memberikan keceriaan hari
laksana langit senja yang pamit menghdirkan ketenangan angkasa
dengan bulan dan gemintang
bagi yang memandang

Dari dalam dirimu
bila kau mau dan mampu
rangkailah kata bijak di setiap kalimatmu
karena itu indah
seperti nyanyian burung yang berterbangan di sela dahan
bagaikan kidung serangga pengisi taman malam
bagi yang mendengar

Dari dalam dirimu
bila kau mau dan mampu
eratkanlah sesama di hatimu
karena itu indah
bak tali pemersatu
laksana titian penghubung
bagi sebuah ukhuwah

Dari dalam dirimu
bila kau mau dan mampu
bacalah bentangan semesta raya
karena itu indah
ketika deru ombak berpadu dengan awan berarak
di saat alam bersatu dari kemajemukan raga
bagi yang berpikir

Dari dalam dirimu
bila kau mau dan mampu
satukanlah niat dan kata dalam nyata
karena itu indah
bila lisan sejalan hati
jika hati seiring perbuatan
bagi yang merasa

(Bunga Rampai)

Kidung Kebahagiaan ( Kahlil Gibran )

Manusian adalah kekasihku, dan aku adalah yang dikasihinya. Aku menginginkannya, dan dia berkorban karena aku. Tetapi malang, aku memiliki pasangan dalam kasihnya yang menjadikan aku nelangsa dan menyiksanya, seorang istri kedua yang bernama kebendaan yang mengikuti kami kemanapun kami pergi, seorang penjaga yang terus menerus memisahkan kami.


Kucari kekasihku di desa diantara pepohonan dan ditepi danau, tapi tidak aku temukan dia. Kebendaan telah menyesatkannya dan membawanya pergi ke kota, kepada masyarakat, korupsi dan kesengsaraan.
Aku mencarinya di gedung-gedung pengetahuan dan di bait-bait hikmah, tetapi tidak aku temukan dia. Kebendaan, dia yang berpakaian debu, telah menuntunnya ke benteng-benteng keegoisan di mana tinggal sifat tidak mau diajar.
Aku mencari di ladang-ladang kecukupan diri, tetapi tidak kutemukan dia, sebab musuhku telah merantainya di goa-goa ketamakan dan hawa nafsu.
Aku memanggilnya menjelang fajar, ketika timur penuh dengan sukacita, tetapi ia tidak mendengarkanku, sebab matanya berat dengan bekas-bekas ketamakan. Aku membelainya menjelang senja ketika kegelapan menjadi kesunyian dan bunga-bunga tidur, tetapi ia tidak mau mendengarakan aku, sebab ia hanya memikirkan keprihatinan-keprihatinan hari esok.
Kekasihku mengasihi aku dan mencariku dalam karya-karyanya, tetapi ia hanya akan menemukan aku dalam karya-karya Allah. Ia ingin bersatu denganku disebuah istana kemuliaan yang ia bangun di atas tengkorak yang lemahatau dengan emas dan perak. Aku hanya akan tampak padanya dirumah sederhana yang dibangun oleh Allah di tepi sungai perasaan. Ia berusaha mengecupku dihadapan para tirani dan pembunuh, tetapi aku hanya akan membiarkannya mengecap mulutku dalam kesendirian diantara bunga-bungaan yang murni. Ia mau menjadikan penyesatan pengantara bagi kami, tetapi aku tidak menginginkan pengantara apapun selain perbuatan yang tak ternoda, perbuatan yang tidak mementingkan diri sendiri.
Kekasihku telah belajar menangis dan meratap dari musuhku, yaitu kebendaan; tetapi aku akan mengajarinya untuk menitikkan air mata permohonan yang tulus dari mata jiwanya dan menghela nafas panjang sementara ia mencari kecukupan diri. Kekasihku adalah milikku, dan aku adalah miliknya. ( Yang Terkasih) 


Di Pintu Gerbang Bait (Kahlil Gibran)

Kumurnikan bibirku dengan dengan api sacral agar aku boleh berbicara tentang ksih, tapi ketika kubuka mulutku untuk berbicara, ternyata aku bisu.
Kunyanyikan melodi-melodi cinta yang belum kukenal, tetapi ketika aku mengenalnya, kata-katanya menjadi bisikan yang tertahan dalam mulutku, nyanyian-nyanyian di dadaku menjadi kebisuan yang mendalam.
Dulu, wahai manusia, engkau menanyakan kepadaku tentang keajaiban serta kebahagiaan kasih, dan engkau menemukan kepuasan dalam apa yang kusampaikan kepadamu.


Tetepi sekarang, ketika kasih telah menyelimuti aku dengan jubahnya, gilirankulah yang bertanya kepadamu tentang cara-cara dan kebijakan kasih itu. Adakah diantaramu yang mendapat jawaban aku ? Aku datang untuk bertanya kepadamu tentang apa yang ada pada diriku, dan kuharap engkau menjelaskan kepadaku tentang jiwa sendiri. Adakah seseorang diantaramu yang dapat menjelaskan hatiku kepada hatiku sendiri, yang dapat menjelaskan esensiku kepada esensiku itu sendiri ?
Tidaka maukah engkau menjelaskan kepadaku, api-api yang menyala dalam dadaku ini ? Ia melahap daya nalarku dan meluluhkan perasaan seta hasrat-hasratku.
Apakah tangan-tangan yang tidak kelihatan ini, yang halus sekaligus kaasar, yang mencengkram rohku ketika aku sendirian dan kesepian ? Ke dalam hatiku tangan-tangan ini mencurahkan anggur bercampur pahitnya kenikmatan dan manisnya kepedihan.
Apakah sayap-sayap yang bergemerisik di sekeliling tempat tidurku di dalam kesunyian malam, sementara aku tetap berjaga-jaga entah terhadap apa, mendengarkan yang tidak kudengar, memandangi yang tidak kulihat, merenungkan apa yang tak kumengerti, menyadari apa yang tidak kusadari, menghela napas paanjang tersebut ada erangan-erangan yang lebih kukasihi ketimbang gema tawa dan sukaacita, berserah kepada kuasa tak kelihatan yang membunuhku, lalu memberiku kehidupan, lalu kembali membunuhku berulang-ulang hingga merekah dan terang memenuhi pojok-pojok kamarku. Baru aku tidur. Tetapi di balik kelopak mataku yang letih karena keterjaannya, menari-nari, dan di atas selimutku, bergoyang hantu-hantu mimpi.

Apakah yang kita sebut “kasih” ini ?

Katakan kepadaku, apakah misteri tersembunyi yang terselubung sepanjang zaman ini, yang mengendap-endap di balik penampilan, tetapi menjadikan hati manusia sbagai tempat tinggalnya ?
Apakah pikiran yang tak terkondisikan ini, yang datang sebagai penyebab dari segala akiba, sebagai akibat dari segala sebab ini ?
Apakah keterjagaan yang menyelimuti baik kematian maupun kehidupan ini, yang mencetaknya menjadi mimpi yang lebih asing daripada kehidupan, dan lebih mendalam daripada kematian ?


Katakanlah padaku, wahai manusia, katakanlah kepadaku ! Siapakah di antaramu yang takkan terjaga dari tidurnya kehidupan, seandainya kasih menyentuh rohmu dengan ujung jari-jemarinya ?
Siapakah di antaramu yang takkan meninggalkan ayah dan ibumu dan rumahmu, seandainya gadis yang kukasihi hatimu memanggil kepadanya ?


Siapakah diantaramu yang takkan menyeberangi lautan, padang gurun, pegunungan, dan lembah-lembah, untuk sampai kepada wanita yang telah dipilih oleh rohnya ?
Pemuda manakah yang takkan mengikuti hatinya hingga ke ujung-ujung bumi untuk menghirup manisnya napas kekasihnya, merasakan sentuhan lembut tangan-tangannya, bergembira dalam melodi suaranya ?
Pria manakah yang takkan mempersembahkan jiwanya sebagai korban bakaran, agar asapnya naik kepada Allah yang mendengar permohonan-permohonan dan menjawab doanya ?
(Yang Terkasih: Kahlil Gibran)




Lukisan Penantian

Ketika seseorang benar-benar merasa rindu kepada orang yang dikasihinya, maka disaat itu tak bisa berbuat apa-apa, selain meluahkan rasa rindunya pada goresan pena yang dia punya diatas secarik kertas dan bercerita melalui goresannya akan rasa rindu yang yang sedang dirasa. Dan inilah yang dulunya pernah ditulis oleh seorang gadis yang masih polos,,,, disaat dia masih duduk di bangku SLTA kelas XI dan kini sedang melanjutkan studi S2-nya di salah satu universitas di luar sana.

Sudah terlalu letih hatiku merindu dan menunggu
Ingin kuhempas rasa itu…..
Tapi cinta telah memaksaku untuk selalu menunggu
Sudah jenuh rasa batinku
Menanti dan mengharap kedatanganmu
Tapi sayang…………
Yang ku punya memaksaku tak bersabar
Hingga inilah buah dari penantianku
Inilah bukti dari penantianku
Yang kau ombang ambingkan dengan kehilanganmu
Ku tak bisa melangkah,,
Karena hanya bayangmu selalu menyertai…




Kiasan makna untuk sebuah rasa

Tersebut sebagai anugrah ilahi
Makna sebuah rasa bagi nurani
Tersebut sebagai cinta dalam hati
Siapa yang tahu
Dialah yang mengerti
Arti kasih yang terpadu dalam insani
Setip cinta yang sedang bersemi
Kerap mengukir sebuah nama
Nama kasih sebagai ruangnya.
Terukir begitu sempurna
Tak setitikpun ternoda
Itulah cinta namanya
Cinta sebagai anugrah ilahi
Akan membumbung tinggi sampai puncaknya
Kala ia temukan kaasih sejatinya
Dan itulah cinta yang murni


Terkadang

Di negeri orang: Puisi penyair Indonesia eksil  Sebutir mangga di halaman gereja: Paduan puisi (Pustaka rohani)  Clinical Practice in Correctional Medicine  


Terkadang kuinginkan
yang hilang
kan terulang

Terkadang kumau
yang pergi
tuk kembali

Terkadang kuberharap
yang duka
sirna selamanya

Terkadang kubercita
dalam hampa
tanpa kerja

Terkadang kusesali
yang terjadi
menimpa diri

Terkadang kuramaikan suasana
dengan canda tawa
penghapus lara

Terkadang kusunyikan suasana
dalam kebersamaan
dengan kesendirian

Terkadang kutergoda
dan terlena
dalam tipu daya

Terkadang kutancapkan cita
agar berbunga
namun tak kuasa




Dalam Nama Allah Hatiku ( Kahlil Gibran )

Kahlil Gibran: His Life and World (Literature)  Treasury of Kahlil Gibran (English and Arabic Edition)  El loco / El jardin del profeta (Clasicos de la literatura series) (Spanish Edition)

Dalam nama Allah hatiku,
Sembunyikanlah gairahmu
Lebih baik menyembunyikan keluhanmu
Dari mereka-mereka yang melihatmu


Ia yang mengungkapkan rahasia-rahasia
Adalah seperti orang bodoh 
Kebisuan dan ketertutupan itu lebih baik 
Bagi dia yang mengasihi  

Dalam nama Allah hatiku,

Kalau ada seseorang dating bertanya
Sembunyikanlah apa yang menimpaku


Kalau mereka berkata,hatiku,
Siapakah yang ia inginkan ?
Katakanlah,
Wanita itu sudah merayu pria lain
Ia tidak peduli

Dalam nama Allah hatiku
Selubungilah semangatmu
Engkau tahu bahwa penyakit ini telah membuatmu lemah

Kasih diantara roh adalah seperti anggur dalam cawan
Tampaknya seperti air
Padahal sesungguhnya adalah kehidupan

Dalam nama Allah hatiku
Jangan prihatin
Engkau akan aman walaupun lautan mengamuk
Dan langit runtuh


Untukmu Sahabat

Ada kalanya Aku dan Kau merasa jauh
Jauh sekali karna dipisahkan jarak dan waktu
bahkan ketika hati terusik tuk ketemu
seolah mendekap rindu dalam bayang semu dan
Adakalanya Aku dan Kau merasa dekat
Dekat sekali...bahkan lebih dekat dari apa yang kita rasakan
Apa yang kita harapkan
dalam setiap bentang sepanjang kenangan
saat ini,saat itu,dan saat yang akan datang


Wahai sahabat
Memang Aku belum mengenalmu secara mendalam
Bahkan kornea mataku yang katanya tembus pandang
Tak bisa melihat dinding-dinding tebal yang tegak menghadang

Bahkan ketika Kau dan Aku jadi penasaran
Timbul gelora membara di gelanggang "Sejuta Pertanyaan"
Apakah ini suatu kesungguhan ataukah sekedar lelucon picisan?
Atau sekedar permainan tipuan yang penuh ketidak manfaatan?
Karna sudah tak percaya dengan namanya persahabatan
Apalagi hanya kenal lewat imel-imelan
Tapi sahabatku percayalah,
Bahwa di tengah ketidakmungkinan masih ada celah berkas sinar harapan
Dibalik sejuta keniscayaan, masih ada uluran tangan kesungguhan
Dibalik semua kemustahilan, masih ada niat ketulusan
Atau mungkinkah ini sebagai budaya metropolitan



Aku sangat maklum dan mafhum akan hal ini
Karna memang seolah hal mustahil di abad terkini
Dimana egoisme dan saling ketidakpercayaan tlah menjadi ciri
Bahkan menjelma menjadi simbol jatidiri

Tetapi sahabatku
Meski Kau jauh ntah dimana
Meski Kau tak tampak seperti siapa
Juga ketika Kau bertanya tentang Aku
Disanalah sebenarnya Kau dan Aku menjadi satu
Satu dalam ikatan bathin yang tak kan pernah pudar
walau ombak samudera menggelegar
bahkan langit kelam dihujani beribu halilintar
Aku tak kan goyah dan tak kan gentar
Karna ku yakin bahwa Kau adalah sahabat baikku
Bahkan sahabat terbaikku
bahkan mungkin lebih dari itu, jika ada kosa kata lain yang utuh




Wahai sahabat
coba kau rasakan ketika kau bangun membuka mata
di sudut pelupukmu ku hadir tuk menjelma
ketika kau sedang pergi
di sini lah ku slalu menanti
Bahkan ketika kau sedang belajar atau bekerja
Disinilah ku slalu mendukung dengan do'a
Bahkan ketika kau larut dengan kerjaan
Disinilah aku selalu menebar benih harapan
Agar kau bertemu dengan bingkai keberhasilan
Semua karena "aku Sayang Padamu"

Disinilah, di lubuk hati ini
Ada asa yang menghujam begitu dalam
Di langit jingga itulah kutebar sayang sepanjang kenangan
bahkan di seluruh waktu
untukmu
untukku
dan untuk semuanya
Mari kita tebar kasih di seluruh jagat raya
Agar anak cucu kita bisa menuai kasih sepanjang masa
Inilah yang bisa kulakukan untukmu
sahabat baikku





Kidung Hujan " Kahlil Gibran "

Aku adalah benang keperakan yang dilemparkan dari langit. Alam merenggutku dan menghias lembah-lembah. Aku adalah mutiara-mutiara cantik yang jatuh dari mahkota Astarte.Putri-putri pagi mencuri mereka dan menghias ladng-ladang dengan mereka.

Aku menangis dan perbikitan tersenyum. Aku merendahkan diri,, dan bunga-bunga menegakkan kepala mereka tinggi-tinggi. Awan dan ladang adalah kekasih, dan aku adalah hamba yang di antara mereka. Aku menangis dan kupuaskan dahaga yang satu dan kuobati penyakit yang lain.

Gelegar Guntur dan sambaran petir mendahului kedatanganku. Pelangi adalah busur kemenangan di akhir perjalanan. Kehidupan di bumi ini dimulai dibawah kaki kebendaan yang marah dan berakhir di tangan kematian yang penuh damai.

Aku bangkit dari jantung danau ddan melambung tinggi dengan sayap-sayap surgawi. Ketika aku melihat sebuah keun yang cantik, aku turun dan kukecup bunga-bunganya dan kurangkul dahan-dahannya.

Dalam kesunyian kuketukkan jari-jariku yang lentik pada kaca jendela, dan ketukanku itu berbaur menjadi kidung yang dapat dipahami oleh jiwa yang peka.

Aku diperanakkanoleh panasnya udara, tetapi justru kubunuh panasnya udara itu. Demikianlah semoga seorang wanita menguasai seorang pria lewat kuasa yang ditariknya dari pria.

Aku adalah helaan nafas panjang laut.Aku adalah air mata langit. Aku adalah senyuman ladang.Demikian pulalah, kasih itu adalah helaan nafas panjang dari lautan perasaan, airmata dari langit kasih, dan senyum dari ladang jiwa.



Kidung gelombang "Kahlil Gibran"

Pantai dan aku adalah kekasih, yang disatukan oleh hasrat dan dipisahkan oleh angin.Aku datang dari atas senja yang biru untuk mencampur buihku yang keperakan dengan pasirnya yang keemasan.Kusejukkan panas hatinya dengan mulutku.Menjelang fajar kuungkapkan hokum gairah ke telinga kekasihku,dan iapun mendekapku didadanya.Menjelang senja kusenandungkan do’a kerinduan, dan iapun mendekat.

Aku merongrong dan gelisah, kekasihku adalah sahabat yang sabar, sahabat yang setia.Ketika aku pasang kurangkul kekasihku.Ketika aku surut, kulemparkan diriku ke kakinya.

Sudah berapa seringkah aku menari-nari disekeliling putrid-putri laut ketika mereka bangkit dari kedalaman dan duduk di bebatuan untuk bergembira di mata bintang-bintang.Sudah berapa seringkah kudengar sang kekasih meratapi gairahnya kepada seorang gadis cantik, dan bersamanya aku mengerang dan mengeluh.

Sudah berapa seringkah aku berpesta bersama bebatuan, walau mereka padat. Sambil tertawa kubelai mereka, tetapi mereka tidak tersenyum. Sudah berapa seringkah kuselamatkan tubuh-tubuh dari jurang-jurang laut lalu membawa mereka kepada yg hidup. Sudah berapa sering kucuri mutiara dari kedalaman dan kuberikan mereka pada wanita-wanita cantik.


Didalam kesunyian malam, ketika para hantu tidur telah merangkul semua mahluk, aku mengaati Terkadang sambil bersenandung, terkadang sambil berbisik. Celakalah aku, sebab mengamati semalam-malaman telah membuatku letih. Tetapi aku ini kekasih, dan esensi kasih adalah keterjagaan.

Inilah kehidupannku, dan yang adalah kehidupanku, harus kulaksanakan.


Nyanyian Malam "Kahlil Gibran"

Love Letters in the Sand: The Love Poems of Khalil GibranMalam terasa sunyi
Tetapi diselimuti kesunyian
Bulan bersinar di langit
Matanya yang awas mengamati
Hari-hari yang berlalu


Biarlah kubawa engkau
Wahai putri ladang
Ke kebun anggur para kekasih
Anggur yang kita peras akan memuaskan dahaga api kerinduan.

Tidak dapatkah engkau mendengar
Suara burung bul-bul
Melantunkan melodi-melodinya di ladang
Napas perbukitan memenuhi langit
Napas mereka adalah semerbak
Tanam-tanaman.


Jangan takut kekasihku
Sebab bintang-bintang di langit
Tak pernah memberitahukan
Apa yang mereka ketahui
Kabut malam yang tebal berputar
Di kebun-kebun anggur ini
Mereka akan menyelubungi rahasia kita


Janganlah takut kalau-kalau sang mempelai
Roh ke luar dari goanya yang ajaib.
Ia berbaring dalam tidur yang memabukkan
Tak Nampak oleh siapapun selain mata para gadis jelita.


Sang raja ruh
Seandainyapun ia lewat,
Biarlah gairah memberikannya pujian
Yang menjadi haknya
Sepertiku,
Ia seddang jatuh cinta
Dan takkan menghukum cinta,
Sebab iapun terbakar





Setapak

Gelap malam memburu sinar
Menjelajah di tengah hitam
Pupil memuai tersengat suar
Kuhampiri suar cahya menepis kelam
Sekonyong, bagai hadir dalam dunia bingar
Keriangan canda ceria masa kecil terselam


Begitu cerah ceria o senangnya
Bahagia, tergelak, tertawa
Makhluk mungil manis bercanda tanpa beban minda
Alunan suara nyanyian musik gembira
Antara hati kita akrab, berbunga
Oh indahnya dunia!


Betapa kuingin kembali 
Masa-masa indah lagi 


Meski dunia begitu misteri 
Mengapa kudu begitu dan begini 
Anak kecil mesti banyak mengkaji 
Namun bermain adalah seni




Ternyata, ceria tak selalu cerah

Si kecil nan kini besar gerah
Mendengar dunia penuh kesah
Yang tampak kecil pasti kalah
Di tengah arus api global yang memerah
Manusia hidup, wajib memilah
Kawan kecilku dulu, enggan ikut dan marah
Kumeniti tapak sendiri melemah


Aku kesal 
Menyesal Sendiri, 
pedih dalam lautan massal 
Dahaga akan jejak berasal 

Pintu terbuka hangat menyambut
Terjalin rantai hati terkuak dalam senyum-senyum lembut
Lapang hati, dada terangkat beban tak lagi semput
Seronok memahami arti cinta kubersujud
Ya Allah, terangilah jalanku sebelum aku Kau jemput




Kerinduan akan-Mu

Adalah kerinduan akan-Mu,
seret aku ke atas hamparan sajadah ini
tenggelamkan aku dalam lautan tasbih tak bertepi

Adalah kerinduan akan-Mu,
tuntun aku telusuri baris-baris kalam-Mu
mencari makna di balik keindahan kata
Yaa Ghofur….Yaa Mujib….

Larut aku dalam munajat panjangku
Pasrah dan berserah di tengah pengharapan
akan terbalasnya rindu ini.......
Yaa Majid.....Yaa Muhaimin....
Adakah rindu yang lebih indah, selain kerinduan akan-Mu.........



Ketika Senandung Camar itu Tiada

Picotee Blue Morning Glory - 10 Seeds - Easy to Grow!Pagi hari tiup bayu semilir menghilir dedaunan
butir-butir cahya mentari menyapa halus kayu-kayu pepohonan
dan lembar demi lembar kelopak daun sisa musim semi yang mulai berguguran
membias indah menyimpan berjuta senyuman


Nun jauh di sana
seorang anak kecil telanjang kakinya berlarian
melintas garis-garis pantai menyiratkan Rahasia Alam Tuhan
sambil membawa jala lebar penangkap ikan
hanya satu yang ada dalam pikirannya :
"Aku harus bisa mengumpulkan ikan sebanyak mungkin
untuk membantu emak berjualan di pasar kota
dan menyisihkannya untuk kusimpan sedikit di tabungan
walaupun tak seberapa "...

terlintas di pikirannya segaris senyum yang tulus dan bahagia
yang selalu menghias wajah kerut-merut seorang wanita 50an
yang telah banyak dimakan panasnya api perjuangan hidup
yang telah mengenal banyak duri dan onak tajam
namun senantiasa penuh cinta dan keikhlasan

hari pun tertatih-tatih merambat siang
mentari mulai menggeser di antara awan-awan
camar-camar riang bernyanyi menghias lelangit terang

"Hei, agaknya hari sudah siang
aku harus segera berkemas pulang
mengganti baju lusuh ini dengan baju yang sedikit lebih rupawan
untuk kupakai ke sekolahan"

dan anak kecil lusuh berwajah tampan itupun segera melangkah pulang
mengayunkan langkah-langkah penat yang tak begitu ia rasakan
demi dilihatnya bayangan emaknya yang tengah menantinya di depan
dan terukir senyum bahagia di wajah tuanya
karena melihat kehadirannya dengan ikan jaringannya yang berlimpah
"Emak pasti senang...
ah, aku ingin segera berjumpa emak
emak yang sangat aku sayang"
sesekali dibetulkannya jaring penuh ikan yang menggelayut berat di bahu kirinya
sambil tangan kanannya menyeka peluh yang mengalir di sekujur wajah dan lehernya

akhirnya,
tibalah ia di jalan arah menuju rumahnya
seolah terbayang sudah masakan yang sudah disiapkan emaknya
penopang lapar yang sejak tadi menggoda perutnya

namun...
langkah penatnya tiba-tiba terhenti
terheran melihat banyaknya orang di depan rumahnya
"Tak seperti biasanya, ada apakah gerangan?
Di manakah emak?"
tanyanya dalam hati
dan langkahnya pun diteruskannya

setibanya di dekat rumah
sang bocah 10 tahun itupun berteriak lantang
"Emaak... emaak... aku pulang!
Jaringku penuh, Mak, ikanku banyak
Emak, emaak, ...
aku sudah pulang, Maak...!!"

di dekat pintu masuk rumah kayu yang sudah hampir rubuh itu
tangan bocah itu dipegang oleh seorang pria
"Paman, Paman ada di sini?
Emak di mana, Paman? Aku ingin menunjukkan hasil panen ikanku hari ini
Aku ingin melihat senyum indah emak, Paman... "

akhirnya pria berwajah sedih itupun melepaskan pegangan tangannya
dan sang bocah pun melanjutkan langkah penat kakinya
di antara kerumunan orang-orang yang memenuhi sekelilingnya

tiba-tiba... kedua mata bundarnya terbelalak lebar
mulut mungilnya terbuka tanpa suara
nafasnya seolah terhenti seketika
kedua alis tebalnya terpaut menggaris dahi
dan...
sebuah lengkingan mengharukan pun memecah deburan ombak kehidupan Rahasia Tuhan
" Emaak...! Emaak...!
Emak..., jangan tinggalkan Bayu, Mak...
jangan tinggalkan Bayu....
Mak, kalau emak pergi, Bayu akan sendiri...
Emaaak...!! "

isak tangis pilu menyayat buluh perindu
seorang hamba telah kembali ke Empunya
sang camar perindu telah kembali ke Kampungnya
sang pelipur lara bayu telah bertemu Kekasih Hatinya
emak sang bunda tercinta telah pergi tinggalkan dunia
menyisakan sebait senyum kasih dan keikhlasan akan seorang bunda...





Terlena

100 Best-Loved Poems (Dover Thrift Editions)
Kubernyanyi
Kumenari
Lalu terelena

Kuberdendang
Kutertawa
Lalu lalai dan lupa

Kuberjalan
Kuberlari
Lalu berhenti tanpa tujuan pasti

Kubersedih

Kumenangis
Lalu meneteskan air mata tanpa arti

Kuterdiam 

Membekukan diri Entah berbuat apa lagi 
Kupergi 
Lalu kembali Entah kapan tersadar 
Bilakah kumelangkah 
Berkelana jauh 
Dan tak kan pernah kembali

Perpect Body and Perpect Soul

The Seashell Anthology of Great PoetryDalam impian masa remajaku
Kuingin memiliki tubuh dan jiwa yang sempurna,
Memang- tanganku yang kecil ini tak mampu untuk meraih segala yang kumau,
Tapi kuyakin jiwa yang ada dalam tubuh mungilku dapat merangkul semua,
Dan aku yakin dapat merangkul raksasa walaupun aku sebenarnya seorang kurcaci.
Kan kugapai semua cita dan harapan -sekalipun itu semua melayang lepas ataupun tergantung diujung langit.


Pernah aku menangisi semua yang terjadi,
tapi kini air mataku mengering sudah,
Kucoba kubangun kembali puing-puing hidupku yang hilang,
aku susun sedikit demi sedikit puing-puing itu untuk kehidupan yang lebih baik dikemudian hari
Dan sekali lagi ku ucapkan !
Aku bukanlah seorang pemimpi yang menanti datangnya seorang peri.
Aku adalah si kurcaci raksasa yang memiliki tekad mengegelegar laksana halilintar
kokoh laksana bebatuan karang.

Jiwaku telah ditempa besi yang panas, terbakar,
berabukan peluh ,dan berbunga api airmata.
Jiwaku menuntunku untuk bicara jujur,
sekalipun terasa berat, aku tetap berusaha.


101 Great American Poems (Dover Thrift Editions)  Selections from American poetry, with special reference to Poe, Longfellow, Lowell and Whittier  The Giant Book of Poetry eBook

Aku hanyalah manusia biasa,
Sesekali aku menyesali- tapi aku mencoba untuk tidak melihat masa silam ,
biarlah itu semua menjadi warna hidupku yang melecuti setiap arah langkahku.

Kucoba menegakkan tubuhku ini, walau pedih-perih terasa sesak dalam misteri.
Kucoba kuangkat kembali karung-karung bernama harapan,
ku terjatuh,
Kucoba untuk bangkit kembali,
Aku terjatuh dan aku terjatuh......
Entah berapa kali aku terjatuh, aku tak dapat menghitungnya,

Namun aku masih bertahan, karena hidup tidaklah untuk
mengeluh dan mengaduh
Hidup adalah perjuangan,
memasuki rahasia langit dan bumi, serta mencipta dan
mengukir kehidupan adalah tujuan akhirku.

Aku merasakan getaran aneh
ketika aku sedih, dan ketika aku bahagia, bagiku keduanya adalah sama.

Bagiku tawa adalah kesedihan yang terbuka dari penyamarannya.
dan tangis adalah kebahagiaan yang tertunda hari kedatangannya.

Dan kuyakin masih ada hari esok bersama Pelangi.
Aku terus berusaha dan berdoa,
Aku serahkan tubuh dan jiwaku sepenuhnya untuk-Mu Tuhan,
Lindungi dan dekatkanlah aku pada-Mu.
Rangkullah aku dengan cahaya petunjuk-Mu,
Dan ketika aku melihatnya,
Aku akan berlari Mengejarnya !

Sumber